Senin, 09 Januari 2012

Perawatan Bayi Baru Lahir


Berdasarkan pelaksanaan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), bahwa pada tahun 2002/2003 dengan perkiraan AKI sebesar 307/100000 Kelahiran Hidup. Sedangkan angka kematian bayi pada tahun 2001 menurut hasil Surkesnas diperkirakan sebesar 50/1000 Kelahiran Hidup. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara tertinggi kematiannya (ibu dan bayi) se Asia Tenggara   (Suparman, AS, 2006).
Lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang lahir sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat menyebabkan cacat seumur hidup, bahkan kematian. Misalnya sebagai akibat dari hipotermi pada bayi baru lahir adalah cold stress yang selanjutnya dapat menyebabkan hipoksemia atau hipoglikemia dan mengakibatkan kerusakan otak (Saifuddin, 2002).
Dalam rencana nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia tahun 2001-2010, disebutkan bahwa dalam konteks “kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat”(Saifuddin, 2002).
Pada periode pascapartum, bayi baru lahir mengalami perubahan biofisiologis dan perilaku yang kompleks akibat transisi ke kehidupan ekstrauterin. Asuhan keperawatan bayi baru lahir didasarkan pada pengetahuan tentang perubahan-perubahan biofisiologis ini dan pengaruh bayi pada unit keluarga. Beberapa jam pertama setelah lahir, menampilkan suatu periode penyesuaian kritis bagi bayi baru lahir, pada sebagian besar lingkungan, perawat memberikan perawatan langsung kepada bayi segera setelah lahir. Oleh sebab itu, seorang ibu harus tahu tentang perawatan bayi baru lahir karena tidak selamanya bidan yang melakukan perawatan setelah bayi pulang ke rumah (Barbara ,2004).
Sehubungan dengan hal tersebut, makalah yang berjudul “Perawatan Bayi Baru Lahir Normal” ini akan membahas lebih jauh lagi mengenai perawatan bayi baru lahir normal yang dimulai segera setelah bayi dilahirkan hingga dalam bayi dalam masa perawatan yang intensif sambil memantau kemungkinan adanya kelainan-kelainan yg mungkin terjadi pada bayi baru lahir.
A.     Definisi
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram.

B.     Ciri-Ciri Bayi Baru Lahir Normal
a.      Berat badan  2500-4000 gram
b.      Panjang badan 48-52 cm
c.       Lingkar dada 30-38 cm
d.      Lingkar kepala 33-35 cm
e.      Bunyi jantung dalam menit-menit pertama 180 kali/menit, kemudian menurun sampai 120-140 kali/menit
f.        Pernafasan pada menit-menit pertama cepat kira-kira 80 kali/menit, kemudian menurun setelah tenang kira-kira 40 kali/menit
g.      Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subcutan cukup terbentuk dan di liputi verniks caseosa
h.      Rambut lanugo telah tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna.
i.        Kuku telah agak panjang dan lemas
j.        Genetalia : Labia mayora sudah menutupi labia minora (pada perempuan ), testis sudah turun (pada anak laki-laki)
k.      Refleks isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
l.        Refleks moro sudah baik, bayi bila di kagetkan akan memperlihatkan gerakan seperti memeluk.
m.    Graff refleks sudah baik, apabila di letakkan sesuatu benda di atas telapak tangan, bayi akan menggenggam / adanya gerakan refleks
n.      Eliminasi baik, urine dan mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan.

C.      Perubahan-Perubahan Yang terjadi Pada Bayi Baru Lahir
1)      Perubahan metabolisme karbohidrat
Dalam waktu 2 jam setelah lahir akan terjadi penurunan kadar gula darah, untuk menambah energi pada jam-jam pertama setelah lahir di ambil dari hasil metabolisme asam lemak, bila oleh karena sesuatu hal perubahan glukosa menjadi glikogen misalnya bayi mengalami hipothermi, metabolisme asam lemak tidak dapat memenuhi kebutuhan pada neonatus maka kemungkinan bayi akan menderita hipoglikemia, misalnya pada bayi BBLR, bayi dari ibu yang menderita DM dan lain-lainnya (Saifuddin, 2002 ).
2)      Perubahan suhu tubuh
Ketika bayi berada pada suhu lingkungan yang lebih rendah dari suhu didalam rahim ibu. Apabila bayi dibiarkan dalam suhu kamar dua puluh lima derajat celcius maka bayi akan kehilagan panas melalui konveksi, radiasi, dan evaporasi sebanyak 200 kal / kg berat badan / menit. Sedangkan produksi panas yang dihasilkan tubuh bayi hanya 1/10 nya. Keadaan ini menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 20C dalam waktu 5 menit, akibat suhu yang rendah metabolisme jaringan meningkat dan kebutuhan oksigen pun meningkat (Saifuddin,2002).
3)     Perubahan pernafasan
Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran. Pernapasan ini timbul sebagai akibat aktivitas normal susunan saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya, seperti kemoreseptor carotid yang sangat peka terhadap kekurangan oksigen, rangsangan hipoksemia, sentuhan dan perubahan suhu didalam uterus dan diluar uterus (Saifuddin, 2002).
Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernapasan dalam otak yang melanjutkan rangsangan tersebut untuk menggerakkan diafragma serta otot-otot pernapasan lainnya. Tekanan rongga dada bayi pada waktu melalui jalan lahir pervaginanam mengakibatkan bahwa paru-paru, yang pada janin normal cukup-bulan mengandung 80-100 ml cairan,        kehilangan 1/3 dari cairan ini. Sesudah bayi lahir cairan yang hilang diganti dengan udara. Paru-paru berkembang, sehingga rongga dada kembali pada bentuk semula (Saifuddin, 2002).
4)     Perubahan sirkulasi
Seiring dengan berkembangnya paru-paru, tekanan oksigen didalam alveoli meningkat. Sebaiknya, tekanan karbondioksida turun. Hal-hal tersebut mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh-pembuluh darah paru, sehingga aliran darah kealat tersebut meningkat. Ini menyebabkan darah arteri pulmonalis mengalir ke paru-paru dan duktus arteriosus menutup. Setelah tali pusat dipotong, maka aliran darah dari plasenta melalui vena kava inferior dan foramen ovale ke atrium kiri terhenti. Serta diterimanya darah oleh atrium kiri dari paru- paru, tekanan diatrium kiri menjadi lebih tinggi dari pada tekanan diatrium kanan, ini menyebabkan foramen ovale menutup. Sirkulasi bayi yang hidup diluar badan ibu.         (Saifuddin, 2002).
5)     Perubahan lain
Alat-alat pencernaan, hati, ginjal dan alat-alat lain mulai berfungsi (Saifuddin, 2002).  
D.     Tujuan Perawatan Bayi Baru Lahir
Adapun tujuan perawatan bayi baru lahir yang dimaksud dibagi menjadi dua yakni tujuan utama dan tujuan khusus seperti yang diuraikan berikut ini :
a.      Tujuan Utama
Tujuan utama perawatan bayi baru lahir yaitu diharapkan agar ibu mampu merawat bayi baru lahir normal.
b.      Tujuan Khusus
1)      Mencapai dan mempertahankan jalan nafas dan mendukung pernafasan.
2)      Mempertahankan kehangatan dan mencegah hipotermia.
3)     Memastikan keamanan dan mencegah cedera atau infeksi
4)     Mengidentifikasi masalah-masalah aktual atau potensial yang memerlukan perhatian segera.

E.      Hal-Hal Yang Dilakukan dalam Perawatan Bayi Baru Lahir Normal (BBLN)
a.      Perawatan tali pusat
Sewaktu masih berada dalam rahim, bayi mendapatkan makanan dan oksigen melalui plasenta atau tali pusat. Setelah bayi dilahirkan, tali pusat dipotong karena sudah tidak lagi berfungsi sebagai alat pengantar makanan. Pangkal tali pusar yang berwarna putih, bening, dan megkilat baru putus setelah bayi berusia sekitar 1-3 minggu. Biasanya tali pusar yang belum putus akan membuat bayi rewel karena tidak nyaman. Bayi merasa sakit bila tali pusarnya yang masih lembab itu tersentuh. Karena itu, tali pusar perlu mendapat perawatan atau dibersihkan setiap hari untuk mencegah terjadinya infeksi, minimal 3 kali sehari  (Jensen, 2004).
Merawat tali pusar juga penting untuk mencegah tetanus neonatorum, yang dapat menyebabkan kematian. Tubuh bayi yang baru lahir belum cukup kuat menangkal kuman infeksi. Karena itu, tali pusar harus dalam keadaan bersih dan tetap kering sampai tali pusar mengering, menyusut, dan lepas dari pusar bayi.Tali pusat akan cepat puput apabila dilakukan perawatan yang baik. Apabila tali pusat terkena tinja atau air kencing bayi maka harus segera dibersihkan dengan menggunakan sabun dan air bersih. Apabila terdapat tanda seperti bengkak, merah, panas, nyeri, gangguan fungsi laesa maka terjadi infeksi pada tali pusat bayi.           (Jensen, 2002).
Setelah memandikan bayi, tutuplah pusar bayi dengan kapas kering atau kasa. Biasanya 5-7 hari tali pusar ini akan lepas sendiri bahkan tanpa ibu ketahui dimana dan kapan sisa jaringan tali pusar ini terlepas. Tali pusar ini sebaiknya dijaga tetap kering setiap hari untuk menghindari terjadinya infeksi pada tali pusat.
Talipusat bayi bukan hiasan semata. Perawatan perlu dilakukan agar tidak terjadi infeksi sebelum talipusat lepas dengan sendirinya (istilahnya disebut dengan puput). Prinsipnya adalah menjaga puntung talipusat supaya tetap bersih dan kering hingga dapat lepas dengan sendirinya. Tidak perlu mengoleskan apapun pada puntung. Bila keadaannya tetap kering, Anda dapat membersihkan setiap selesai mandi atau buang air dengan menggunakan cotton bud (pembersih liang telinga) yang diolesi alkohol 70%. Sebaiknya tidak menggunakan antiseptik karena kandungan yodium di dalamnya dapat mengganggu pertumbuhan kelenjar gondoknya. Bila menggunakan popok, lipat popok dibawah pusat, tidak membalut talipusat. Hal ini dimaksudkan agar ketika si kecil buang air kecil, talipusat tidak basah terkena air kencing. Talipusat umumnya lepas dalam waktu 5 hari hingga 7 hari meski kadang ada yang sampai dua minggu.
b.      Menjaga kehangatan bayi
Mekanisme pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir, belum berfungsi sempurna. Bayi lahir dengan tubuh basah oleh air ketuban. Aliran udara melalui jendela / pintu yang terbuka akan mempercepat penguapan dan bayi lebih cepat kehilangan panas tubuh.Akibatnya dapat timbul serangan dingin (cold stress) yang merupakan gejala awal hypothermia. Bayi kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh karena kontrol suhu belum sempurna. Hal ini menyebabkan gejala awal hipotermia sering kali tidak terdeteksi oleh ibu / keluarga bayi atau penolong persalinan (Saifuddin, 2002).
Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara-cara berikut :
1)      Evaporasi adalah kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
2)      Konduksi adalah kehilangan panas tubuh bayi melalui kontak langsung oleh tubuh bayi dengan dengan permukaan yang dingin. Meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakkan diatas benda-benda tersebut.
3)     Konveksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Seperti melalui aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
4)     Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi ( Affandi, 2007).
Untuk mencegah terjadinya serangan dingin setiap bayi lahir harus dikeringkan dengan handuk yang kering dan bersih (sebaiknya handuk tersebut dihangatkan terlebih dahulu). Mengeringkan tubuh bayi harus dilakukan dengan cepat mulai kepala kemudian seluruh tubuh. Handuk yang basah harus diganti dengan handuk yang lain yang kering dan hangat. Setelah tubuh bayi kering segera dibungkus dengan selimut, diberi topi / tutup kepala, kaos tangan dan kaki. Selanjutnya bayi diletakkan dengan telungkup diatas dada untuk mendapat kehangatan dari dekapan ibu (Saifuddin, 2002).
Suhu normal bayi baru lahir berkisar 36,5OC – 37,5OC yang diukur dengan menggunakan termometer. apabila suhu < 36OC atau kedua tangan atau kaki teraba dingin maka ini merupakan gejala awal dari hipotermi. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermia. Tanda-tanda bayi hipotermia adalah sebagai berikut :
1)      Bayi tidak mau minum atau menetek
2)      Bayi tampak lesu atau mengantuk saja
3)     Tubuh bayi teraba dingin
4)     Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras (Saifuddin, 2002).         
c.       Pemenuhan nutrisi
Bayi normal sudah dapat disusui segera setelah lahir. Lamanya disusui hanya untuk satu dua menit pada setiap payudara ibu dengan mengisapnya bayi dapat terjadi perangsangan terhadap pembentukan air susu ibu. Walaupun air susu ibu yang berupa kolostrum itu dapat diisap hanya beberapa tetes, ini sudah cukup untuk kebutuhan bayi dalam hari-hari pertama. Kolostrum banyak mengandung antibody (ketahanan tubuh). Kadang-kadang bayi keberatan menyusui bayinya dengan alasan ASI belum keluar. Pada hari ketiga bayi sudah harus menyusui selama 10 menit pada mamma ibu dengan jarak waktu tiap 3-4 jam. Akan tetapi diantara waktu itu bayi menangis karena lapar, bayi sudah boleh disusui pada satu mamma secara bergantian. Sehingga kebutuhan on demand dapat terpenuhi (Saifuddin, 2002).
Kebutuhan cairan pada tiap-tiap bayi untuk mencapai kenaikan berat badan yang optimal berbeda-beda. Oleh sebab itu, pemberian cairan kepada bayi yang daya isap dan menelannya baik hendaknya on demand. Pada umumnya cairan yang diberikan pada hari pertama sebanyak 60 ml/kg berat badan dan setiap dan setiap hari di Rumah, sehingga pada hari ke-14 dicapai 200 ml/kg berat badan sendiri. Dalam hari-hari pertama berat badan akan turun oleh karena pengeluaran mekonium dan masuknya cairan belum mencukupi. Turunnya berat badan tidak lebih dari 10%, berat badan akan naik lagi pada hari ke 4 sampai hari ke 10 dan seterusnya. Oleh sebab itu, pemberian ASI pada bayi sangat penting (Saifuddin, 2002).
d.      Memandikan bayi
Setelah bayi lahir, suhunya dicek setiap jam sekali sampai hasil pengecekan dua kali berturut-turut menunjukkan suhu 36,50C. Sesudah itu, pengecekan suhu ini dilakukan setiap 4 jam sekali. Selama 24 jam pertama dan kemudian, jika tidak terdapat indikasi untuk pengecekan yang lebih sering, 2 kali sehari (Barbara,2004).
Suhu harus diukur sebelum bayi ditelanjangi untuk dimandikan atau dibersihkan, dan pada beberapa rumah sakit, pengukuran suhu juga dilakukan sesudah bayi dimandikan. Memandikan bayi, jika mungkin, harus dilakukan sebelum makan dan bukan sesudahnya karena lambung yang penuh dapat terganggu oleh gerakan dan tindakan  sewaktu memandikan. Ruangan harus bersih dan tidak banyak angin. Handuk, pakaian serta popok bayi yang bersih sudah disiapkan terlebih dahulu, dan bak mandi bayi diisi dengan air dingin serta di tambahkan air panas sampai suhu air menjadi hangat ketika di periksa memakai sisi sebelah dalam pergelangan tangan atau siku ( Barbara, 2004 ).
Cara-cara memandikan bayi :
1)      Petugas cuci tangan sebelum memandikan bayi.
2)      Baringkan bayi diatas meja mandi yang telah dialasi kain.
3)     Isi Waskom dengan air hangat ( suhu air kira-kira 36,5-37,2oC )
4)     Lepaskan seluruh pakaian bayi.
5)     Cuci muka bayi lalu basuh seluruh badan bayi dengan waslap
6)     Pakaikan sabun keseluruh tubuh bayi kecuali muka.
7)     Masukkan bayi kedalam Waskom yang berisi air hangat  dengan cara tangan kiri memegang belakang leher bayi sambil menutup kedua lubang telinga dengan jari tengah dan ibu jari. Tangan kanan memegang kedua kaki bayi dimana jari telunjuk berada diantara kedua kaki bayi.
8)     Lepaskan tangan kanan dari kaki bayi lalu basuh seluruh tubuh bayi dengan tangan kanan sehingga bersih.
9)     Angkat bayi keatas meja mandi yang telah dialasi handuk bayi, lalu dikeringkan.
10)  Olesi badan bayi dengan baby oil/minyak talon.
11)   Kenakan pakaian bayi dengan ikatan popok dibawah tali pusat bayi  lalu dibedong.
12)   Berikan bayi pada ibunya untuk disusui.
e.      Pencegahan infeksi
Bayi baru lahir rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir. Infeksi dapat menjadi masalah besar di rumah sakit. Oleh karena itu perawat harus mencuci tangan sebelum menyentuh bayi. Bagian tubuh bayi baru lahir yang sangat sensitif seperti mata, mulut, kulit terutama tali pusat (Jensen, 2002).
Mata bayi harus selalu diperiksa untuk melihat tanda-tanda infeksi, mata harus selalu dibersihkan dengan air bersih. Muka sebaiknya diseka dengan air steril, terutama sesudah minum susu.      Mulut diperiksa untuk melihat kemungkinan infeksi dengan kandida (oral thrush). Kandidiasis merupakan suatu penyakit endemik di tempat bayi (infeksi dapat berasal dari ibu, bidan/perawat, botol/dot). Bila ditemukan dapat diobati dengan gentian violet 1% yang baru dibuat atau larutan Nystasin yang langsung diteteskan kemulut. Kulit, terutama bila lipatan-lipatan (paha, leher, belakang telinga, ketiak) harus selalu bersih dan kering. Bagian-bagian tersebut harus bersih dari verniks caseosa karena verniks kaseoasa merupakan media yang paling baik untuk kuman stafilokokus. Tali pusat akan puput pada waktu bayi berumur 6-7 hari yang harus dijaga kebersihannya dengan menggunakan kain kasa yang dibasahi dengan zat antiseptik seperti betadin dan alkohol 70 % (Jensen, 2004 ).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar